Persoalan Logistik, PKS dan Prabowo Pecah Kongsi?



ISN (Jakarta) -- Sejumlah elite PKS meragukan keseriusan Prabowo Subianto maju sebagai calon presiden (capres). Alasannya, Prabowo dianggap tak lagi memiliki kekuatan logistik yang memadai untuk memenangkan Pilpres 2019 usai kalah beruntun pada 2009 dan 2014. Belakangan elite PKS bahkan menegaskan tidak akan ikut urunan dana jika kader mereka maju di Pilpres 2019.

"Kalau yang maju kader PKS, maka itu menjadi tanggungjawab seluruh kader PKS. Kalau bukan kader yang maju, kami harus sadar diri," kata Mardani, dilansir Kamis (19/4/2018).

Apa yang dimaksud Mardani dengan "sadar diri"? "Ya agak tidak enak hati kalau kami meminta kader membantu," kata anggota Komisi II DPR RI ini.

Mardani mengatakan dana kampanye merupakan faktor penting memenangkan kontestasi. Untuk pemilu legislatif PKS telah mengumpulkan 80% dana kampanye dari target yang ditetapkan. Namun untuk pemilu presiden ia mengatakan PKS masih menunggu kepastian siapa kader yang akan mereka usung.

"Kalau untuk Pilpres, ya memang kalau kader [PKS] yang maju semua akan turun," ujar Mardani.

Politikus PKS Nasir Djamil juga sempat meragukan keseriusan Prabowo Subianto menjadi capres. Ia beralasan Prabowo tidak lagi memiliki logistik yang memadai untuk memenangkan Pilpres 2019. Ia menduga Prabowo akan menyerahkan tiket kepada mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo sebagai capres dari Gerindra.

Berbeda dengan PKS, Wakil Sekretaris Jenderal PAN Dipo Ilham mengatakan partainya siap urunan dana kampanye dengan partai koalisi mereka di Pilpres 2019. Ia mencontohkan Pilpres 2014 saat PAN bersama Gerindra mengusung pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.

"Itu jelas dari partai koalisi dan donatur-donatur. Kemudian juga ada dari Pak Prabowo dan Pak Hatta sendiri," kata Dipo.

Tak seperti elite PKS, Dipo percaya Prabowo masih memiliki modal logistik yang memadai untuk memenangkan Pilpres 2019. "Saya melihat Pak Prabowo juga siap secara mental dan kesehatan," kata Dipo.

Dipo mengatakan keputusan PAN mendukung capres dan cawapres di Pilpres 2019 akan disampaikan pada Agustus 2018.

Wakil Ketua Umum Gerindra Ferry Juliantono tidak percaya PKS serius mempersoalkan logistik kampanye Prabowo. Menurutnya Gerindra dengan PKS sudah terbiasa berkoalisi di pemilu dengan dana minim.

"Di Pilkada DKI itu dana kami kurang dan menang," kata Ferry.

Ferry memastikan Prabowo masih memiliki modal yang mumpuni, salah satunya dari Hashim Djojohadikusumo. Selain itu Prabowo juga telah berbicara dengan dengan rekan-rekan bisnisnya terkait pengumpulan dana kampanye.

"Sekarang yang jelas sudah enggak ada lagi pengusaha yang mau bantu Pak Jokowi. Wong sekarang mereka susah aksesnya," ujar Ferry. 
Ferry memprediksi dana kampanye di Pilpres 2019 tidak akan lebih besar dari Pilpres 2014 lantaran ada aturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang membatasi penggunaan alat peraga kampanye. Termasuk pembatasan iklan televisi. "Paling yang banyak itu untuk saksi. Karena harus ada atensi beberapa ratus ribu atas kerja mereka selama 1-2 hari di seluruh TPS di Indonesia," kata Ferry.

Pada Pilpres 2014, dari data laporan penerimaan dana kampanye KPU periode 31 Mei-3 Juni 2014, Prabowo-Hatta menghabiskan dana Rp10.000.000.000. Sementara, Joko Widodo - Jusuf Kalla menghabiskan dana Rp44.507.420.305.

Sumber: Tirto
Share on Google Plus

About Info Seputar Nusantara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 التعليقات:

Posting Komentar