Kondisi Tak Layak, MDTA Al Firdaus Bandar Klippa Butuhan Bantuan Pemerintah



ISN (Deli Serdang) -- Kondisi Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Al Firdaus PTPN II Kebun Bandar Klippa semakin memprihatinkan. Gedung bangunan yang terletak di Jalan Masjid, Desa Bandar Klippa, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, itu sudah lapuk dimakan usia.

Menurut Kepala MDTA Al Firdaus, Drs. M. Khaidir, madrasah tersebut sudah berdiri sejak tahun 1982 dengan lokasi yang cukup luas.

Ia menjelaskan, awalnya MDTA Al Firdaus didirikan untuk memberi pelajaran agama kepada anak-anak karyawan. Namun belakangan, masyarakat umum juga banyak yang menitipkan anaknya untuk belajar agama di madrasah tersebut.

"Madrasah ini berdiri tahun 1982 dengan Kepala Sekolah Ibu Ramiah B dan Koordinator Pak Nu'man Ridwan. Kemudian Ibu Ramiah diganti dengan saya, koordinator tetap Pak Nu'man. Lalu koordinator berganti ke Pak Akhyar Syam dan sekarang Pak Solahuddin," kata Khaidir.

Terdapat empat kelas di MDTA Al Firdaus, yakni kelas 1, 2, 3 dan 4 yang terbagi dalam dua shift, pagi dan sore. Jika anak-anak tersebut mengikuti sekolah formal pagi hari, maka belajar di MDTA PTPN II pada sore hari, begitu juga sebaliknya.

"Kalau di SD masuk pagi, dia belajar ngaji masuk sore. Kalau sekolah di SD masuk sore, dia belajar ngaji pagi," jelas Khaidir.

Saat ini tak kurang dari 100 murid belajar ilmu agama di MDTA Al Firdaus. Namun tenaga pengajar tetap yang ada hanya tinggal M. Khaidir. Selebihnya hanya tenaga sukarela dan tak terikat yang turut membantu proses belajar mengajar di madrasah tersebut.

Apalagi MDTA Al Firdaus tidak mendapat bantuan apapun, termasuk dalam hal pendanaan dari pemerintah maupun PTPN II. Hanya iuran murid secara sukarela yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan madrasah.

"Tenaga pengajar yang dari PTPN tinggal saya sendiri. Tahun yang lewat ada, namun kini sudah ditarik PTPN. Jadi saya hanya ditemani guru honor yang mengajar secara sukarela," jelasnya.

"Guru-guru disini sosial saja, jarang diupah. Kita prihatin dengan PTPN, Pak manajer bilang keadaan kita sangat minim, tanah kita banyak digarap dan hasilnya tidak bisa mensubsidi madrasah ini lagi. Sementara dari pemerintah belum ada bantuan. Murid kita tidak dapat fasilitas apapun. Pagar gedung, seng, lantai, semua kita perbaiki sendiri," tandasnya.



Menyikapi hal ini Ketua Umum Serikat Pekerja Perkebunan (SP Bun) PTPN II, Daniel Ginting, akan mendesak pihak direksi agar melihat dan menaruh kepedulian terhadap kondisi MDTA Al Firdaus.

"PTPN II sudah menyediakan lahan dan gedung, bahkan ada tenaga pengajar yang ditempatkan dari karyawan PTPN. Namun kenapa pemerintah seolah abai terhadap nasib madrasah ini. Padahal ada 20% dana APBN yang dialokasikan untuk pendidikan. Kasihan anak-anak yang belajar disini," ucap Daniel.

Daniel juga akan meminta kejelasan kepada direksi PTPN II mengenai status madrasah tersebut agar ke depan bisa dikelola dengan lebih profesional.

"Saya akan bertemu dengan direksi untuk membicarakan mengenai nasib madrasah ini. Cukup prihatin kita melihat kondisinya. Saya akan meminta kejelasan kepada direksi mengenai status madrasah ini. Jangan dibiarkan madrasah ini terus berjalan dengan keprihatinan," tegas Daniel.

Share on Google Plus

About Info Seputar Nusantara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 التعليقات:

Posting Komentar