Mengubah Setan Merah Jadi Mesin Pencetak Uang



ISN (Inggris) -- Sebelum 12 Mei 2005, Malcolm Irving Glazer bukan tokoh ternama di dunia olahraga. Namun setelahnya, nama Malcolm dan nama-nama lain di Keluarga Glazer sering disebut atau lebih tepatnya dihujat oleh banyak pendukung Manchester United.
Sebagaimana banyak pengusaha sukses lainnya, kisah Malcolm Glazer dimulai dari bawah.
Lahir di Rochester, New York, pada 1928, Malcolm Glazer adalah putra dari imigran asal Lithuania. Saat usianya masih 8 tahun, Malcolm sudah bekerja membantu bisnis reparasi jam tangan milik ayahnya. Di usia 15 tahun, setelah ayahnya meninggal, ia mengambil alih bisnis tersebut untuk kemudian mengembangkannya.

Pada 1950-an, Malcolm berhenti kuliah dari Sampson College. Sejak itu niatnya jelas: mengembangkan bisnis dan menghasilkan uang sebanyak-banyaknya.
Untuk merealisasikan niatnya, Malcolm mulai menanamkan modal di panti jompo dan sektor properti sembari membeli beberapa perusahaan terkemuka yang ada di Amerika Serikat, seperti National Bank of Savanah dan West Hill Convalescent Centre. Pada 1976, ia menggelontorkan uang sebesar 20 juta dolar AS untuk membeli tiga stasiun televisi sekaligus.
Lantaran usahanya semakin meluas, Malcolm pun mendirikan perusahaan induk yang dinamai First Allied Coorporation pada 1984. Perusahaan induk inilah yang kemudian mengawasi semua bidang usaha di bawah kuasa Malcolm.
Namun Malcolm belum puas dengan capaiannya itu. Setelah First Allied berdiri, ia memulai hobi baru, yaitu membeli saham dan melakukan akuisisi. Beberapa perusahaan yang berhasil ia akuisisi adalah Conrail, Formica, dan Zapata Corp. Malcolm juga membeli sebagian saham produsen sepeda motor mewah, Harley-Davidson.
Rentetan pembelian dan akuisisi inilah yang membuat nama Malcolm Glazer, pada 2003, tercatat dalam daftar 400 nama pengusaha terkaya sepanjang masa versi majalah Forbes.
Membeli Manchester United dengan Berutang
Geliat Malcolm di dunia olahraga dimulai pada 1995, ketika ia berhasil mengakuisisi salah satu tim peserta NFL, Tampa Bay Buccaneers, dengan mahar 192 juta dolar. Jumlah yang teramat besar untuk tim macam Tampa Bay yang kala itu masih semenjana.
Di bawah tangan dingin Malcolm, klub American football asal Florida ini berubah menjadi tim yang disegani. Mereka sukses memenangi 131 pertandingan di musim reguler dan menjadi juara Super Bowl untuk kali pertama pada 2002.
Keberhasilan inilah yang kemudian menjadikan Keluarga Glazer begitu disegani di Kota Tampa Bay.
Setelah sukses di olahraga Amerika, Malcolm memperlebar sayapnya. Pilihan itu jatuh kepada Manchester United, salah satu kesebelasan dengan fans terbanyak dan prestasi tersukses di Inggris, Eropa, bahkan dunia.
Pada pertengahan 2003, Glazer hanya mempunyai 3% saham United. Melihat prospek yang cerah pada bisnis ini, Glazer pun secara bertahap menaikkan jumlah investasi. Pada 12 Mei 2005, ia lalu mengeluarkan dana 790,3 juta Pound untuk bisa menguasai United sepenuhnya.
Tapi akuisisi Glazer ini justru mengundang kekecewaan pendukung United. Pasalnya, 265 juta Pound dari dana akuisisi Glazer tersebut diperoleh dengan berutang dengan menggunakan aset kesebelasan sebagai agunan.
Meski pembelian tersebut mengundang banyak tanda tanya, banyak pendukung United yang tersenyum manakala melihat prestasi United saat berada di bawah kepemimpinan Glazer. Entah itu senyum kecut, senyum kebencian, senyum bangga, ataupun senyum pilu. Yang pasti, mereka semua tersenyum.
Sejak Glazer membeli United pada 2005, ia berhasil meninggalkan warisan berharga dengan meraih 5 gelar juara Liga Primer Inggris, 4 Piala Liga, 1 Piala FA, 1 Liga Champions, 1 Liga Europa, dan 1 Piala Dunia Antarklub. Sebuah capaian luar biasa yang belum tentu bisa disamai oleh banyak pemilik kesebelasan di dunia ini.
Memang, torehan prestasi United itu tak lepas dari jerih payah manajer, terutama Sir Alex Ferguson (Glazer bisa saja tak membeli United andaikan Ferguson sudah pensiun pada 2002). Tapi jangan lupa, salah satu resep kesuksesan Glazer adalah ia tahu bagaimana cara menangani Sir Alex, yaitu dengan cara memberinya kendali penuh.
Tak seperti banyak pemilik kesebelasan yang ingin nampang dan menunjukkan kekuasaan dengan ikut campur urusan kesebelasan, Glazer membiarkan Ferguson bekerja sebebas mungkin. Ia membuat manajer kelahiran Skotlandia itu jadi satu-satunya fokus Manchester United di mata pemain dan media. Ini adalah satu resep yang pas digunakan untuk bekerja sama dengan manajer yang control-freak seperti Sir Alex.

Transformasi Manchester United Menjadi Mesin Pencetak Uang
Membeli kesebelasan memang tidak murah, apalagi kesebelasan sebesar Man United. Akuisisi Glazer terhadap United menyisakan banyak utang. Praktis, setelah berpindah tangan ke keluarga Glazer, United dan juga pendukung-lah yang bertanggung jawab untuk melunasi utang tersebut sekaligus membayar bunganya.
Tak pelak kebijakan ini menuai protes. Bahkan, utang-utang United ini mendorong sebagian fans untuk membentuk klub baru, yaitu FC United of Manchester.
Beberapa fans juga ada yang ingin “menyelamatkan” United dengan jalan membeli saham kesebelasan. Namun niatan tersebut ditolak mentah-mentah oleh sang pemilik. Keluarga Glazer lebih memilih untuk menahan 90% saham dan melemparkan 10% saham United ke bursa saham New York, daripada dimiliki oleh para suporter.
Dengan tak menjual saham kepada para suporter, hegemoni Glazer di Old Trafford tak bisa diusik oleh siapa pun.
Sebagaimana dikatakan Michael Corleone dan beberapa tokoh lainnya dalam film The Godfather, tak ada yang personal dalam bisnis. Tak mengenal keluarga atau pun sanak saudara, apalagi suporter. Jadi, wajar saja jika keluarga Glazer lebih memilih untuk melempar United ke bursa saham, yang jelas-jelas lebih menguntungkan, ketimbang menjualnya kepada para suporter.
Lantas, jika United terlilit utang dan sarat kontroversi, kenapa mereka justru cenderung berprestasi saat Glazer memimpin, terutama saat manajer United masih Sir Alex?
Keluarga Glazer sadar, jika ingin utang mereka segera terlunasi dan harga saham United tetap stabil di pasaran, mereka harus terus berprestasi. Jika tidak, nilai saham mereka akan anjlok dan sponsor enggan datang. Yang berarti juga, bencana bagi sang pemilik.
Maka tak heran, semasa dipimpin Glazer, United dituntut untuk selalu mempersembahkan trofi setiap tahunnya, meski kucuran dana kadang ada kadang tidak. Hal inilah yang kemudian berimbas pada tren United satu dekade terakhir. Semata hanya untuk mengembalikan modal sang pemilik dan membayar tangguhan utang yang melilit kesebelasan.
***
Malcolm Glazer memang sudah meninggal dunia pada 28 Mei 2014. Namun, tidak pernah ada yang berubah dari United, karena toh selama Malcolm sakit, United sudah diurus oleh ketiga anaknya: Avram, Bryan, dan Joel Glazer.
Kesebelasan ini akan terus berjalan sebagaimana Malcolm menginginkannya: sebagai bisnis dan penghasil uang sebanyak-banyaknya. Bagi Manchester United dan para pendukungnya, semuanya berawal dari 12 Mei 2005. Sejak itu, Manchester United bukan sekadar kesebelasan, melainkan juga mesin pencetak uang.
Share on Google Plus

About Info Seputar Nusantara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 التعليقات:

Posting Komentar