Ratna Sarumpaet Ungkap Alasan Pembentukan KPK



ISN (Medan) -- Aktivis Ratna Sarumpaet mengaku tidak setuju dengan pendapat yang menyebut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) didirikan karena Indonesia darurat korupsi pada masa awal reformasi.

Menurutnya, KPK berdiri merupakan salah satu persyaratan dari Internasional Monetary Fund (IMF). Sebab semua negara yang bergantung pada IMF harus punya lembaga anti rasuah seperti KPK.

"Seperti Singapura punya, Thailand punya, dan negara-negara yang lainnya juga punya," kata Ratna dalam forum diskusi bertema Indonesia Darurat Korupsi di Medan, Jumat (11/5/2018).

Menurutnya, kondisi Indonesia sangat buruk setelah dilakukannya amandemen UUD 1945 terutama yang menyentuh politik. Sebab, sambungnya, undangan-undang politik itu justru merusak cara berpikir, bersikap, kedewasaan, bahkan hati juga ikut digerogoti.

"Dari itu dalam lima tahun sekali kita bukan memproduksi kepala daerah yang baik, melainkan memproduksi ribuan koruptor," tegasnya.

"Ini seperti hantu yang membuat hancur karena undangan-undang politik dari hasil amandemen tersebut. Jadi kita harus kembali ke UUD 1945," ujar wanita berusia 69 tahun yang juga berprofesi sebagai sutradara film itu.

Dalam kesempatan itu turut hadir sejumlah narasumber seperti pakar filsafat, Rocky Gerung, Harlan M. Fachra (Ketua Gerak Indonesia), M. Joharis Lubis (akademisi) dan Sugiat Santoso (Ketua KNPI Sumut).

Rocky Gerung dalam kesempatan itu menyampaikan pandangannya terkait tinjaun sejarah dan filsafat dari korupsi.

Kata Rocky, apakah kondisi hari ini benar-benar berada di titik paling rendah sehingga kita mencari solusi paling dangkal? Itu karena keadaan politik dan seluruh solusi dikonklusikan.

"Indonesia dipecahkan akibat ulah konfederasi. Korupsi dihentikan dengan memicu pelaku. Itulah yang terjadi saat ini dan kita rasakan getaran itu," katanya.

Lanjutnya, potensi krisis ekonomi sudah ada di depan pintu dan mungkin dalam dua bulan ke depan Bank Central Amerika akan kembali naikkan suku bunga sehingga nilai rupiah menjadi Rp 15 ribu per dollar Amerika.

"Jadi kita lihat ada kontras antara analisis yang dihasilkan oleh sebuah forum dan kondisi real yang ada di tengah-tengah masyarakat. Inilah yang terjadi," tukasnya.
Share on Google Plus

About Info Seputar Nusantara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 التعليقات:

Posting Komentar