Tambang Emas Ilegal Marak di Madina, Formada-Tabagsel Minta Polda Sumut Bentuk Tim Satgas



ISN (Madina) -- Maraknya penambangan emas ilegal di Desa Lancat, Kecamatan Lingga Bayu dan Desa Ampung Siala, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang disinyalir tidak memiliki izin resmi dari Pemkab maupun Pemprov, membuat Forum Mahasiswa dan Pemuda Tapanuli Bagian Selatan (Formada-Tabagsel) meminta Polda Sumut agar membentuk Tim Satgas guna menertibkan aktivitas penambangan emas ilegal yang terjadi di bantaran Sungai Batang Natal, Kabupaten Madina.
Ahmad Junaidi Siagian selaku Ketua Formada-Tabagsel dalam keterangan resminya mengatakan, saat ini sedang marak terjadi penambangan emas ilegal di Kabupaten Madina. Dia pun berharap Polda Sumut agar secepatnya membentuk Tim Satgas agar selanjutnya dilakukannya penertiban terhadap penambangan liar tersebut.
"Kita sangat prihatin atas penambangan emas ilegal. Sejauh ini kita sudah lakukan upaya penanganan indikasi temuan ini ke Kapolda Sumut untuk secepatnya dibentuk Tim Satgas" ujar Junaidi Siagian, Senin (11/6/2018).
Pasalnya, menurut amatan Formada-Tabagsel, penambangan emas secara liar di bantaran Sungai Batang Natal disinyalir melanggar Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba). 
Pertambangan yang tidak memiliki izin resmi jelas melanggar Undang-Undang sebagaimana tertera di dalam Pasal 158, yaitu setiap orang atau individi melakukan penambangan tanpa izin seperti IUP, IPR, atau IUPK sebagaimana dimaksud pada Pasal 37, Pasal 40 Ayat 3, Pasal 18 Ayat 1, Pasal 74 Ayat 1 atau Ayat 5, dipidana dengan penjara paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak sepuluh miliar rupiah.
Penambangan emas ilegal di bantaran Sungai Batang Natal tersebut diduga sudah berlangsung cukup lama, namun Pemkab Madina dan DPRD Madina justru kerkesan tutup mata serta tak berdaya melakukan tindakan tegas terhadap penambang emas ilegal meskipun sudah berulang kali dilakukan permohonan penertiban.
Bahkan disinyalir penambangan tersebut telah merusak ekosistem lingkungan hidup Sungai Batang Natal. Hal itu dibuktikan dengan adanya aktivitas penggalian dengan menggunakan alat berat yang mengakibatkan keruhnya air serta adanya bahan kimia yang tercurah ke dalam air Sungai Batang Natal.
Padahal Sungai Batang Natal sudah sejak lama digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan sebagai irigasi untuk lahan persawahan.
"Lihat saja air di Sungai Batal Natal itu, airnya sudah kotor, padahal air sungai itu selama ini dipakai oleh masyarakat sekitar untuk keperluan sehari-hari," jelas Junaidi.
Junaidi Siagian juga menegaskan, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan upaya lanjutan agar penambangan emas ilegal di Kabupaten Madina dapat dihentikan dan para penambang liar segera angkat kaki dari Kabupaten Madina yang terkenal dengan sebutan Bumi Gordang Sambilan.
Upaya yang akan dilakukan dimulai dengan menyurati dan mendesak pihak-pihak terkait, seperti Pemprov Sumut, DPRD Sumut, Pangdam I Bukit Barisan, Menteri Lingkugan Hidup RI dan Ombudsman RI Perwakilan Sumut.
"Bukan tidak mungkin akan kita lakukan penggerakan warga besar-besar untuk aksi unjuk rasa dengan harapan supaya pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap penambangan emas ilegal tersebut," tegas Junaidi Siagian.
Formada-Tabagsel saat ini mengakomodir saran dan pendapat dari masyarakat. Hal tersebut dengan dibukanya pos pengaduan masyarakat.
"Silahkan menghubungi pihak Formada-Tabagsel di nomor 0852-6141-5767 untuk mengadukan masalah penambangan ilegal ini biar kita himpun dalam satu laporan," tukasnya.
Share on Google Plus

About Info Seputar Nusantara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 التعليقات:

Posting Komentar