Pengusaha Ayam Potong Propam-kan Penyidik Polsek Lubuk Pakam



ISN (Deli Serdang) -- Kasus pengusaha ayam potong yang ditipu rekan bisnisnya, Muhammad Ali Nafiah, asal Huta Nagori Bandar, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun, berbuntut panjang.

Korban tidak terima dengan pihak Polsek Lubuk Pakam yang melepas pelaku penipuan bernama Atiah alies Iteng dengan alasan tiba-tiba sakit jiwa.

"Atiah alies Iteng, warga Perbaungan yang secara tiba-tiba mengaku sebagai orang gila setelah menerima uang sebesar Rp 24 juta dari saya. Padahal Atiah itu sempat ditangkap, namun saat ini Atiah sudah dibebaskan dengan alasan yang bersangkutan sudah memiliki surat keterangan mengalami gangguan jiwa yang dikeluarkan oleh dr. Dapot Parulian, Sp.KJ, M.Kes," kata Ali, Selasa (24/7/2018).

"Saya belum bisa terima dengan proses hukum di Polsek Lubuk Pakam yang dengan mudahnya menerima alasan dari Atiah yang mengaku menderita gangguan kejiwaan," sambungnya.

Pengaduan Ali Nafiah di Propam Polda Sumatera Utara tercatat sesuai nomor Surat Tanda Penerimaan Laporan Nomor STPL/39/V/2018/Propam ter tanggal 14 Mei 2018. Dirinya berharap pengaduan ini bisa menguak seluruh proses yang terjadi di Polsek Lubuk Pakam, termasuk mengenai kebenaran dari surat keterangan menderita gangguan kejiwaan (shizofrenia katatorwa) oleh dr. Dapot Parulian.

"Saya menduga ada permainan disitu, karena surat keterangan gangguan kejiwaan ini dikeluarkan oleh klinik lewat surat pernyataan yang tidak mempunyai nama dan tidak memiliki kop surat. Saya curiga ini hanya ditukang-tukangi untuk membuat seolah yang bersangkutan benar-benar gila," jelas Ali.

Melihat kecurigaan itu, pihak Ali Nafiah mengaku sempat mempertanyakan terkait keluarnya surat keterangan menderita gangguan kejiwaan oleh dr. Dapot Parulian. Menurutnya, sang mengakui bahwa surat tersebut memang dikeluarkannya berdasarkan permintaan dari istri Atiah.

"Dia ngaku nggak tau kalau pada akhirnya surat tersebut menjadi dokumen dalam perkara yang ada di kepolisian," ungkapnya.

Terpisah. dr. Dapot Parulian membenarkan adanya surat yang dikeluarkan olehnya terkait status pasien yang menderita gangguan kejiwaan.

Saat itu menurutnya, pasien tersebut berobat dan meminta pemeriksaan yang hasilnya disimpulkan bahwa yang bersangkutan menderita gangguan kejiwaan berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDG) III. Padahal dokter tersebut tidak mengetahui apakah sang pasien sedang ada persoalan di kepolisian atau tidak.

"Saya tau kalau yang bersangkutan ada masalah di kepolisian sekitar bulan Mei 2018 saat saya ditanyai polisi soal surat itu. Saya membenarkan mengeluarkan suratnya. Karena di RSU Lubuk Pakam juga ada keterangan yang bersangkutan mengalami depresi," ucapnya.
Terkait kewenangan mengeluarkan surat pernyataan gangguan kejiwaan, dr. Dapot mengaku hal tersebut tidak menjadi masalah. Sebab, pilihan untuk menjadi tempat menjalani pemeriksaan dan pengobatan menjadi hak pasien.
"Kalau kemana dia mau berobat itu hak pasien," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan penipuan yang dialami Muhammad Ali Nafiah sudah terjadi lebih kurang 10 bulan lalu. Rekan bisnisnya bernama Atiah alias Iteng melakukan penipuan dengan meminta transfer uang sebesar Rp 24 juta untuk pembelian ayam potong yang menjadi barang dagangan mereka.

Akan tetapi setelah uang tersebut ditransfer ke rekening istri Atiah bernama Yuli yang kemudian digelapkan. Dalam perkara ini pihak kepolisian sempat menahan Atiah. Namun beberapa saat kemudian Atiah justru tidak ditahan karena diduga mengalami gangguan jiwa.
Share on Google Plus

About Info Seputar Nusantara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 التعليقات:

Posting Komentar