Hakim Perintahkan Kompol Fahrizal Tidak Ditahan



ISN (Medan) -Majelis hakim menyatakan bahwa mantan Kasat Reskrim Polresta Medan, Kompol Fahrizal, bersalah karena melakukan tindak pidana pembunuhan. Namun dirinya tidak dihukum penjara karena mengalami gangguan jiwa.

"Menyatakan terdakwa secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan kesatu Pasal 338 KUHP akan tetapi kepada terdakwa tidak dibebankan hukuman pidana," kata Ketua Majelis Hakim, Richard Silalahi, saat membacakan putusan di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (7/2/2019).

Dalam amar putusannya, majelis hakim juga memerintahkan agar terdakwa dikeluarkan dari tahanan dan dirawat di rumah sakit jiwa.

"Kepada terdakwa segera dikeluarkan dari rumah tahanan dan dirawat ke rumah sakit jiwa," ucapnya di hadapan JPU Randi Tambunan dan terdakwa.

Putusan ini sama dengan tuntutan yang diajukan oleh JPU Randi Tambunan. Bahkan dalam pembelaannya, kuasa hukum terdakwa juga menyatakan sikap serupa.

"Jadi, kami apresiasi putusan majelis hakim. Menurut kami majelis hakim mempertimbangkan fakta-fakta persidangan. Karena dari awal klien kami ini memang mengalami gangguan jiwa termasuk saat dia melakukan penembakan itu," tutur kuasa hukum terdakwa, Julisman, usai persidangan.

Untuk diketahui, Kompol Fahrizal didakwa melakukan pembunuhan dengan menembak mati adik iparnya, Jumingan, pada April 2018 lalu. Setelah melepaskan 6 tembakan yang tidak beruntun, dia menyerahkan diri ke Polrestabes Medan.

Sebelumnya, penasihat hukum menolak dakwaan dan menyatakan perwira menengah itu mengalami gangguan jiwa sejak 2014. Dia bahkan beberapa kali dibawa berobat ke Klinik Utama Bina Atma di Jalan HOS Cokroaminoto, Medan.

Penasihat hukum menilai Fahrizal tidak dapat dikenakan dakwaan karena sudah mengalami gangguan kejiwaan akut atau skizofrenia paranoid tiga tahun sebelum peristiwa penembakan terjadi.

Menurut penasihat hukum, penembakan yang dilakukan Fahrizal terhadap Jumingan yang merupakan suami adiknya, Heny Wulandari, pada 4 April 2018, dilakukan tanpa sadar atau di luar logika kesadarannya. Bahkan awalnya terdakwa datang ke lokasi kejadian untuk melihat ibunya, Sukartini, yang baru sembuh dari sakit.

Setelah penembakan terjadi, pihak penyidik Polda Sumut juga melakukan pemeriksaan terhadap Fahrizal di RS Jiwa Prof Dr Muhammad Ildrem, Medan. Dokter yang memeriksanya pada 23 April 2018 menyebutkan bahwa Fahrizal mengalami skizofrenia paranoid.
Share on Google Plus

About Info Seputar Nusantara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 التعليقات:

Posting Komentar